Langsung ke konten utama

KATA MEREKA MUDAH

Sajak sajak yang mereka lantunkan terasa bising

Saat ku berdiri disini

Aku mendengar lontaran kata itu

Saat aku berdidri disana

Aku tetap mendengarkan lontaran kata itu

Lagi lagi dan lagi

Suara itu manis dan tabu saat bersamaan


Kini, ku singgahi rumah ini

Kata mereka

Untuk apa singgah?

Menetap itu hal yang “mudah”

Aku tak setuju

Nayatanya, ini seperti belenggu yang menjerat jiwaku


Semakain ku biarkan

Semakin menjerat

Aku tak mengerti, apa yang salah dari diriku?

Kata mereka aku belum menemukan

Menemukan sesuatu yang kata mereka “istimewa”

Seperti menemukan suvarna dibelantara


Angin semakin kencang menerpaku

Dalam perjalalanan ini semuanya membuatku lelah

Ku berjalan dengan kaki yang terseok – seok

Badan yang membiru dipenuhi lebam

Suara yang tak lantang lagi

Dan nyali yang tinggl tak seberapa ini

Lelah aku benar benar lelah


Lontaran kata itu terdengar lagi

“ Semua itu mudah”

Itu kata mereka

Semakin ku pahami , semakin membingungkan


Namun, saat ku melangkah kini

Ada bisikan yang menggetarkanku

Katanya dia disini

Lihat dan rasakan


Kini ku mengerti

Semua belenggu yang menjerat jiwaku

Semua keresahan yang mengusik jiwa ini

Terbang bersama hembusan angin


Dengan senyuman yang terpatri di wajahku

Aku meyakini lontaran kata itu

Kata mereka mudah

Tak ada lagi berjalan dengan kaki yang terseok – seok

Tak ada lagi lebam biru

Semua mengilang ketika aku memilih menetap

Semua kata mereka benar

Kata mereka mudah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APA YANG BURUK DI MATAMU, BELUM TENTU BURUK SEPENUHNYA

(Resensi buku oleh Anandhika Lukman Firmani) Identitas Buku 1. Judul Buku : Sisi Tergelap Surga 2. Penulis: Brian Khrisna 3. Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 4. Tahun Terbit : 2023 5. Ketebalan: 304 halaman 6. ISBN: 978-602-06-7438.4 Pendahuluan Selain karya Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati (2025), Brian Khrisna pernah menciptakan beberapa novel sebelumnya, salah satunya adalah Sisi Tergelap Surga. Buku ini merupan buku yang ke-7 (2023) dia ciptakan setelah novel Perumpamaan (2021). Novel ini diangkat dari kenyataan Brian dua puluh lima tahun di Jakarta. Ia ingin menampilkan kontras atau paradoks kota Jakarta yang sering dianggap sebagai kota “surga penuh harapan,” namun kenyataannya justru melumat halus-halus mimpi para masyarakat kelas bawah. Di sisi lain, alasan utama Brian menulis novel ini adalah untuk menumbuhkan rasa empati pembaca terhadap kaum marginal (orang yang terpinggirkan karena keterbatasan) dan mengajarkan kita untuk tidak mudah menghakimi jalan hidup orang lain. Sinopsi...

Kejujuran Lebih Berharga dari Seribu keping Emas

Di kelas yang ramai ada seseorang anak yang bernama Anam. Ia dikenal sebagai anak yang sangat teliti dalam urusan administrasi,tapi ia baru menjadi anggota dan belum banyak mendapat peran besar di dalam sebuah organisasi tersebut. Suatu hari, Anam ditugaskan oleh bendahara untuk menghitung uang kas organisasi dari hasil penjualan kecil, uang itu berjumlah lumayan banyak dan diletakan dalam amplop di atas meja. Saat menghitung, Anam menemukan satu lembar uang seratus ribuan yang terselip di bawah tumpukan kertas, yang yang tidak tercatat dalam pembukuan bendahara. "Wah ini rezeki nomplok",pikir Anam. Ia bisa dengan mudah menyimpan nya tanpa ada yang tahu,karena bendahara tidak mencatat uang lebih itu.  Namun, Anam teringat akan janji yang selalu mengajarkan tentang integritas. Ia menarik napas panjang, masukan uang yang terselip itu kembali ke dalam amplop itu sambil berkata "kak ini total uang kas yang tadi saya hitung. Tapi, saya menghitung. Tapi, saya menemukan satu le...

Jejak Langkah yang Tak Padam

 Di bawah langit senja yang perlahan redup, langkah demi langkah tetap berpijak tanpa takut runtuh. Bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang tetap bertahan meski lelah menghampiri. Kau membawa semangat, aku membawa keyakinan, dia membawa doa yang diam-diam menguatkan perjalanan. Kita bukan sekadar kumpulan nama dalam cerita, tetapi tangan-tangan kecil yang saling menjaga cita. Kadang jalan dipenuhi batu dan debu yang berjatuhan, namun harapan tak pernah benar-benar kehilangan tujuan. Karena setiap peluh yang jatuh hari ini, akan menjadi saksi perjuangan di masa nanti. Tak perlu menjadi cahaya paling terang untuk berarti, cukup tetap menyala di tengah gelap yang silih berganti. Sebab dunia tak hanya dibangun oleh mereka yang hebat, tetapi juga oleh hati yang tulus dan tekad yang kuat.