Langsung ke konten utama

Postingan

Kesejahteraan Guru : Kunci Mutu dan Keadilan Pendidikan

 Meskipun guru adalah fondasi utama pendidikan, masih banyak guru non-ASN menghadapi ketidakpastian status dan pendapatan rendah. Pemerintah telah menaikkan tunjangan dan mempercepat pengangkatan honorer menjadi PPPK, tetapi distribusi guru belum merata dan gaji tambahan honorer masih sangat minim. Berdasarkan data resmi Kemdikbudristek, Indonesia memiliki lebih dari 3 juta guru, namun distribusinya tidak merata; pada Desember 2024, masih kekurangan sekitar 374.000 guru di beberapa daerah, sementara ratusan ribu guru kelebihan di bidang tertentu. Sekitar 237.000 guru non-ASN tercatat aktif mengajar sebelum Desember 2024. Untuk memberikan kepastian, Mendikdasmen menerbitkan SE No.7/2026 yang membolehkan pemerintah daerah tetap menugaskan guru non-ASN aktif dalam masa transisi. Kebijakan tersebut diharapkan menjaga keberlangsungan pembelajaran sekaligus “mengakui pengabdian guru honorer” selama ini. Pemerintah juga memperbaiki skema insentif guru. Pada 2025, tunjangan guru non-ASN di...
Postingan terbaru

APA YANG BURUK DI MATAMU, BELUM TENTU BURUK SEPENUHNYA

(Resensi buku oleh Anandhika Lukman Firmani) Identitas Buku 1. Judul Buku : Sisi Tergelap Surga 2. Penulis: Brian Khrisna 3. Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 4. Tahun Terbit : 2023 5. Ketebalan: 304 halaman 6. ISBN: 978-602-06-7438.4 Pendahuluan Selain karya Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati (2025), Brian Khrisna pernah menciptakan beberapa novel sebelumnya, salah satunya adalah Sisi Tergelap Surga. Buku ini merupan buku yang ke-7 (2023) dia ciptakan setelah novel Perumpamaan (2021). Novel ini diangkat dari kenyataan Brian dua puluh lima tahun di Jakarta. Ia ingin menampilkan kontras atau paradoks kota Jakarta yang sering dianggap sebagai kota “surga penuh harapan,” namun kenyataannya justru melumat halus-halus mimpi para masyarakat kelas bawah. Di sisi lain, alasan utama Brian menulis novel ini adalah untuk menumbuhkan rasa empati pembaca terhadap kaum marginal (orang yang terpinggirkan karena keterbatasan) dan mengajarkan kita untuk tidak mudah menghakimi jalan hidup orang lain. Sinopsi...

Jejak Langkah yang Tak Padam

 Di bawah langit senja yang perlahan redup, langkah demi langkah tetap berpijak tanpa takut runtuh. Bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang tetap bertahan meski lelah menghampiri. Kau membawa semangat, aku membawa keyakinan, dia membawa doa yang diam-diam menguatkan perjalanan. Kita bukan sekadar kumpulan nama dalam cerita, tetapi tangan-tangan kecil yang saling menjaga cita. Kadang jalan dipenuhi batu dan debu yang berjatuhan, namun harapan tak pernah benar-benar kehilangan tujuan. Karena setiap peluh yang jatuh hari ini, akan menjadi saksi perjuangan di masa nanti. Tak perlu menjadi cahaya paling terang untuk berarti, cukup tetap menyala di tengah gelap yang silih berganti. Sebab dunia tak hanya dibangun oleh mereka yang hebat, tetapi juga oleh hati yang tulus dan tekad yang kuat.

Lihatlah lebih dekat

 “Terimalah dirimu hari ini, dengan segala kurang dan lebih yang kamu miliki. Tidak semua hal harus sempurna untuk bisa berharga, dan tidak semua proses harus cepat untuk bisa disebut berhasil. Hidup bukan tentang menjadi seperti orang lain, melainkan tentang bagaimana kamu bertumbuh menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri. Jangan terlalu sibuk membandingkan langkahmu dengan mereka yang terlihat lebih jauh, karena setiap orang memiliki jalan, waktu, dan perjuangannya masing-masing. Ada luka yang diceritakan di balik senyuman, ada perjuangan yang tak terlihat di balik keberhasilan. Maka berjalanlah dengan caramu sendiri. Perlahan tidak masalah, selama kamu tidak berhenti.  Belajarlah menerima diri sendiri, menghargai prosesmu, dan terus berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari. Karena pada akhirnya, ketulusan menjadi diri sendiri akan selalu lebih indah daripada berpura-pura menjadi orang lain.”

Jejak yang Saling Menguatkan

Di lorong waktu yang berjalan perlahan, kita menapakkan langkah di jalan yang sama, membawa mimpi dengan cara yang berbeda, namun menuju arah yang serupa. Ada yang datang membawa cahaya, ada yang hadir menjaga bara agar tak padam, dan ada pula yang diam-diam menguatkan saat ini dunia terasa terlalu bising untuk didengar. Tanganku mungkin tak berani baja, tapi aku belajar berharap harapan. Sedangkan tanganmu, menjadi penopang ketika langkah mulai goyah. Kita tidak selalu berjalan di depan, kadang harus berada di belakang untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Sebab kebersamaan bukan tentang siapa yang paling bersinar, melainkan tentang siapa yang tetap tinggal meskipun keadaan mulai memudar. Dan ketika malam jatuh tanpa aba-aba, kita belajar bahwa hangat tidak selalu datang dari matahari, tetapi dari hati-hati yang saling memahami. Karena perjalanan yang panjang tak pernah ditaklukkan sendirian. Ia hidup dari doa yang saling dipanjatkan, dari bahu yang rela menguatkan, dan dari lan...

Simfoni Jemari yang bertaut

Puan dan tuan berjalan dengan nafas yang tak pernah berhenti,  Di bawah langit biru sang tuan dan puan memanggul berat beban yang sama,  berdiri bersama bukan sebagai orang asing yang terpisah. Kau membawa kayu, aku membawa paku,  Dia membawa rencana yang tertulis di atas debu yang berhambur,  aku membawa sebuah harapan yang penuh keyakinan. Tak ada tangan yang terlalu kecil untuk membantu,  tapi rasa peduli menyertai di lubuk terdalam ini,  Tidak ada bahu yang terlalu besar untuk menumpu. Ketika lelah mulai merambat di sela-sela sendi,  Suaramu menjadi api yang menghangatkan sepi. Kita adalah rangkaian roda gigi yang saling mengunci, Bergerak selaras dalam alunan irama yang pasti. Sebab sebuah istana tak akan pernah berdiri megah,  Jika hanya satu orang yang mengeluarkan keringat hingga lelah.

Kejujuran Lebih Berharga dari Seribu keping Emas

Di kelas yang ramai ada seseorang anak yang bernama Anam. Ia dikenal sebagai anak yang sangat teliti dalam urusan administrasi,tapi ia baru menjadi anggota dan belum banyak mendapat peran besar di dalam sebuah organisasi tersebut. Suatu hari, Anam ditugaskan oleh bendahara untuk menghitung uang kas organisasi dari hasil penjualan kecil, uang itu berjumlah lumayan banyak dan diletakan dalam amplop di atas meja. Saat menghitung, Anam menemukan satu lembar uang seratus ribuan yang terselip di bawah tumpukan kertas, yang yang tidak tercatat dalam pembukuan bendahara. "Wah ini rezeki nomplok",pikir Anam. Ia bisa dengan mudah menyimpan nya tanpa ada yang tahu,karena bendahara tidak mencatat uang lebih itu.  Namun, Anam teringat akan janji yang selalu mengajarkan tentang integritas. Ia menarik napas panjang, masukan uang yang terselip itu kembali ke dalam amplop itu sambil berkata "kak ini total uang kas yang tadi saya hitung. Tapi, saya menghitung. Tapi, saya menemukan satu le...