Di kelas yang ramai ada seseorang anak yang bernama Anam. Ia dikenal sebagai anak yang sangat teliti dalam urusan administrasi,tapi ia baru menjadi anggota dan belum banyak mendapat peran besar di dalam sebuah organisasi tersebut.
Suatu hari, Anam ditugaskan oleh bendahara untuk menghitung uang kas organisasi dari hasil penjualan kecil, uang itu berjumlah lumayan banyak dan diletakan dalam amplop di atas meja. Saat menghitung, Anam menemukan satu lembar uang seratus ribuan yang terselip di bawah tumpukan kertas, yang yang tidak tercatat dalam pembukuan bendahara.
"Wah ini rezeki nomplok",pikir Anam. Ia bisa dengan mudah menyimpan nya tanpa ada yang tahu,karena bendahara tidak mencatat uang lebih itu.
Namun, Anam teringat akan janji yang selalu mengajarkan tentang integritas. Ia menarik napas panjang, masukan uang yang terselip itu kembali ke dalam amplop itu sambil berkata "kak ini total uang kas yang tadi saya hitung. Tapi, saya menghitung. Tapi, saya menemukan satu lembar uang Rp.100.000 yang tidak tercatat di daftar. Saya kembalikan ya." Bendahara terkejut.Ternyata uang itu meneng sengaja di selipkan oleh bendahara untuk menguji kejujuran Anam,karena ia sedang mencari anak yang bisa di percaya untuk memegang jabatan penting.
Pelajaran yang dapat di ambil dari kisah ini : Apa yang dilakukan Anam adalah cerminan integritas yang berjalan . Integritas bukan lah tentang janji besar , terapi tentang pilihan kecil yang kita buat saat tidak ada orang yang melihat. Sekecil apapun godaan untuk tidak jujur, integritas yang di pertahan kan akan menjadi modal kepercayaan yang paling berharga, sebab bagi seseorang anak , satu kata jujur lebih berharga dari pada seribu keping emas .
Komentar
Posting Komentar