Langsung ke konten utama

APA YANG BURUK DI MATAMU, BELUM TENTU BURUK SEPENUHNYA

(Resensi buku oleh Anandhika Lukman Firmani)


Identitas Buku
1. Judul Buku : Sisi Tergelap Surga
2. Penulis: Brian Khrisna
3. Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
4. Tahun Terbit : 2023
5. Ketebalan: 304 halaman
6. ISBN: 978-602-06-7438.4


Pendahuluan
Selain karya Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati (2025), Brian Khrisna pernah menciptakan beberapa novel sebelumnya, salah satunya adalah Sisi Tergelap Surga. Buku ini merupan buku yang ke-7 (2023) dia ciptakan setelah novel Perumpamaan (2021). Novel ini diangkat dari kenyataan Brian dua puluh lima tahun di Jakarta. Ia ingin menampilkan kontras atau paradoks kota Jakarta yang sering dianggap sebagai kota “surga penuh harapan,” namun kenyataannya justru melumat halus-halus mimpi para masyarakat kelas bawah. Di sisi lain, alasan utama Brian menulis novel ini adalah untuk menumbuhkan rasa empati pembaca terhadap kaum marginal (orang yang terpinggirkan karena keterbatasan) dan mengajarkan kita untuk tidak mudah menghakimi jalan hidup orang lain.


Sinopsis
Novel Sisi Tergelap Surga mengangkat realitas pahit dan kehidupan kaum marginal yang tersembunyi di balik kemegahan kota Jakarta. Selayaknya ilusi fatamorgana, di balik gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, terdapat perkampungan kumuh tempat orang-orang terbuang berjuang keras hanya untuk bertahan hidup dari hari ke hari.
Buku ini tidak hanya fokus pada satu tokoh, melainkan memotret berbagai takdir dan penderitaan dari banyak karakter yang tinggal di lingkungan kumuh tersebut. Dalam penyajiannya, buku ini menjadi beberapa bab yang pada tiap babnya menceritakan kisah dari beberapa tokoh berikut:
1.Yuyun. Seorang perempuan yang terpaksa menikahi pria yang tidak ia cintai karena tekanan sosial demi menepis stigma hina sebagai "perawan tua" di kampungnya. Ia merasa pernikahannya tak ada bedanya seperti penjara dan terus dihantui oleh ketakutan finansial jika sampai ia memiliki anak.
2. Rini dan Juleha (Leha). Perempuan-perempuan yang terpaksa menjajakan diri sebagai pekerja seks komersial demi bisa bertahan hidup di hari esok dan untuk membahagiakan anak mereka.
3. Kuncahyo. Seorang pemuda yang bekerja keras di sebuah mal dengan gaji pas-pasan. Ia menahan lelah dan rela mengirit demi bisa mengirimkan uang untuk ibu di kampung, meski harus membersihkan kotoran manusia di pekerjaannya.
4. Pergi jauh. Seorang pemuda yang nekat mencuri sepeda motor dan mengorbankan nyawanya sendiri demi mendapatkan uang untuk membelikan obat bagi ibunya yang sedang sakit.
5. Karakter-karakter lainnya. Terdapat pula kisah Syamsuar si penjual nasi goreng yang sepi pelanggan. Resti yang dulunya sarjana namun kini hidup susah bersama suami pengangguran. Dewi yang menjadi langganan korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), hingga Danang dan Brian yang lelah dililit beban hidup dan utang.
Secara keseluruhan, "Sisi Tergelap Surga" menyajikan ironi kehidupan di ibu kota. Novel ini mengeksplorasi tema tentang keputusasaan, kemiskinan, serta bagaimana manusia-manusia yang tertindas ini dipaksa belajar menerima keadaan. Di kota yang pandai melahirkan harapan sekaligus mengecewakan, mereka terus melangkah, antara terus hidup karena tidak pernah menyerah mencoba, atau terus hidup karena tidak pernah mencoba menyerah.


Keunggulan dan Kelemahan Buku
1. Keunggulan Buku:
A. Tema buku yang anti-mainstream. Alih-alih menyajikan romansa ibu kota yang indah, buku ini berani menyoroti “sisi gelap” Jakarta.
B. Bahasa yang digunakan dekat dengan kehidupan sehari-hari dan terasa realistis. Dialog antar tokohnya menggunakan gaya bahasa sehari-hari. Hal ini membuat emosi dan umpatan tokoh-tokohnya terasa nyata dan relatable.
C. Penulis mendeskripsikan tokoh demi tokoh dengan sangat jelas. Brian Khrisna sangat detail dalam menggambarkan latar belakang dan penderitaan tiap karakternya. Pembaca bisa membayangkan lelahnya Kuncahyo membersihkan toilet mal, atau tekanan batin Yuyun yang terjebak stigma perawan tua.
D. Pada beberapa bab memiliki interkoneksi yang unik, dan menciptakan benang merah yang menarik. Meski seolah tak saling kenal, tokoh di satu bab ternyata bisa muncul sekilas sebagai figuran atau perbuatannya berdampak pada tokoh di bab lain.
E. Setiap bab memiliki isi cerita yang berbeda. Disajikan dengan format novel komposit (kumpulan cerita pendek) membuat buku ini tidak membosankan dan asyik dibaca mencicil.
2. Kelemahan Buku:
A. Terlalu banyaknya tokoh yang terkadang membuat pembaca lupa dan salah mengira. Karena setiap bab menghadirkan tokoh utama yang baru, seperti Rini, Juleha, Danang, dll, pembaca rawan kebingungan dan sering kali harus membolak-balik halaman untuk mengingat siapa tokoh ini sebelumnya.
B. Pada beberapa tokoh kurang dieksplorasi secara mendalam. Imbas dari banyaknya tokoh adalah durasi penceritaan yang terbagi-bagi. Akibatnya, ada beberapa karakter yang penyelesaian konfliknya terasa buru-buru atau kurang memuaskan.
C. Beberapa adegan terasa kurang realistis. Meski bahasanya realistis, beberapa “kebetulan” yang terjadi agar tokoh-tokoh ini bisa saling terhubung (interkoneksi di poin 1d) terkadang terasa agak dipaksakan demi menyatukan alur cerita.


penutup
Secara keseluruhan, Sisi Tergelap Surga bukanlah bacaan fiksi yang sepele, isi dalam buku ini merupakan sebuah realita yang mencerahkan yang membuka mata dan hati pembacanya akan kerasnya kehidupan kaum marginal. Melalui penderitaan dan pilihan-pilihan sulit dari tiap karakternya, Brian Khrisna berhasil menitipkan pesan moral yang sangat membuka hati dan pikiran, yaitu agar kita tidak mudah menghakimi pekerjaan maupun tindakan orang lain. Sebab, hal yang mungkin terlihat buruk dan hina di mata kita, bisa jadi merupakan satu-satunya cara dan pilihan terakhir bagi mereka untuk sekadar menyambung pernapasan dan bertahan hidup hingga esok hari. Buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin memikirkan arti kerasnya perjuangan hidup, memupuk rasa empati, serta belajar melihat dunia dari sudut pandang yang lebih memanusiakan manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Isu Sosial : Indonesia Gelap

Tagar #IndonesiaGelap mendadak ramai di media sosial, khususnya di platform X. Dalam waktu 24 jam, tagar ini sudah digunakan lebih dari 14 juta kali oleh warganet. Ramainya tagar tersebut berawal dari aksi mahasiswa yang menolak kebijakan pemangkasan anggaran pendidikan. Mereka menilai langkah itu tidak adil dan bisa merugikan masa depan bangsa. Selain turun ke jalan, mahasiswa juga mendapat dukungan di dunia maya. Masyarakat ikut bersuara lewat unggahan, komentar, dan diskusi yang menyebar cepat. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial menjadi ruang penting untuk menyuarakan pendapat. Suara yang muncul tidak hanya dari mahasiswa, tetapi juga dari berbagai kalangan. Tagar #IndonesiaGelap akhirnya menjadi simbol keresahan banyak orang. Ia bukan hanya rangkaian kata, melainkan tanda bahwa ada masalah serius yang perlu diperhatikan. Kini, pertanyaannya adalah apakah suara dari jalanan dan dunia maya ini akan benar-benar didengar oleh pemerintah. Harapan publik tetap sama: pendidikan h...

Kejujuran Lebih Berharga dari Seribu keping Emas

Di kelas yang ramai ada seseorang anak yang bernama Anam. Ia dikenal sebagai anak yang sangat teliti dalam urusan administrasi,tapi ia baru menjadi anggota dan belum banyak mendapat peran besar di dalam sebuah organisasi tersebut. Suatu hari, Anam ditugaskan oleh bendahara untuk menghitung uang kas organisasi dari hasil penjualan kecil, uang itu berjumlah lumayan banyak dan diletakan dalam amplop di atas meja. Saat menghitung, Anam menemukan satu lembar uang seratus ribuan yang terselip di bawah tumpukan kertas, yang yang tidak tercatat dalam pembukuan bendahara. "Wah ini rezeki nomplok",pikir Anam. Ia bisa dengan mudah menyimpan nya tanpa ada yang tahu,karena bendahara tidak mencatat uang lebih itu.  Namun, Anam teringat akan janji yang selalu mengajarkan tentang integritas. Ia menarik napas panjang, masukan uang yang terselip itu kembali ke dalam amplop itu sambil berkata "kak ini total uang kas yang tadi saya hitung. Tapi, saya menghitung. Tapi, saya menemukan satu le...

Jejak Langkah yang Tak Padam

 Di bawah langit senja yang perlahan redup, langkah demi langkah tetap berpijak tanpa takut runtuh. Bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang tetap bertahan meski lelah menghampiri. Kau membawa semangat, aku membawa keyakinan, dia membawa doa yang diam-diam menguatkan perjalanan. Kita bukan sekadar kumpulan nama dalam cerita, tetapi tangan-tangan kecil yang saling menjaga cita. Kadang jalan dipenuhi batu dan debu yang berjatuhan, namun harapan tak pernah benar-benar kehilangan tujuan. Karena setiap peluh yang jatuh hari ini, akan menjadi saksi perjuangan di masa nanti. Tak perlu menjadi cahaya paling terang untuk berarti, cukup tetap menyala di tengah gelap yang silih berganti. Sebab dunia tak hanya dibangun oleh mereka yang hebat, tetapi juga oleh hati yang tulus dan tekad yang kuat.