Di lorong waktu yang berjalan perlahan,
kita menapakkan langkah di jalan yang sama,
membawa mimpi dengan cara yang berbeda,
namun menuju arah yang serupa.
Ada yang datang membawa cahaya,
ada yang hadir menjaga bara agar tak padam,
dan ada pula yang diam-diam menguatkan
saat ini dunia terasa terlalu bising untuk didengar.
Tanganku mungkin tak berani baja,
tapi aku belajar berharap harapan.
Sedangkan tanganmu,
menjadi penopang ketika langkah mulai goyah.
Kita tidak selalu berjalan di depan,
kadang harus berada di belakang
untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.
Sebab kebersamaan bukan tentang
siapa yang paling bersinar,
melainkan tentang siapa yang tetap tinggal
meskipun keadaan mulai memudar.
Dan ketika malam jatuh tanpa aba-aba,
kita belajar bahwa hangat
tidak selalu datang dari matahari,
tetapi dari hati-hati yang saling memahami.
Karena perjalanan yang panjang
tak pernah ditaklukkan sendirian.
Ia hidup dari doa yang saling dipanjatkan,
dari bahu yang rela menguatkan,
dan dari langkah kecil
yang terus berjalan berdampingan.
Komentar
Posting Komentar