Langsung ke konten utama

Simfoni Jemari yang bertaut

Puan dan tuan berjalan dengan nafas yang tak pernah berhenti, 

Di bawah langit biru sang tuan dan puan memanggul berat beban yang sama, 

berdiri bersama bukan sebagai orang asing yang terpisah.

Kau membawa kayu, aku membawa paku, 

Dia membawa rencana yang tertulis di atas debu yang berhambur, 

aku membawa sebuah harapan yang penuh keyakinan.

Tak ada tangan yang terlalu kecil untuk membantu, 

tapi rasa peduli menyertai di lubuk terdalam ini, 

Tidak ada bahu yang terlalu besar untuk menumpu.

Ketika lelah mulai merambat di sela-sela sendi, 

Suaramu menjadi api yang menghangatkan sepi.

Kita adalah rangkaian roda gigi yang saling mengunci,

Bergerak selaras dalam alunan irama yang pasti.

Sebab sebuah istana tak akan pernah berdiri megah, 
Jika hanya satu orang yang mengeluarkan keringat hingga lelah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Isu Sosial : Indonesia Gelap

Tagar #IndonesiaGelap mendadak ramai di media sosial, khususnya di platform X. Dalam waktu 24 jam, tagar ini sudah digunakan lebih dari 14 juta kali oleh warganet. Ramainya tagar tersebut berawal dari aksi mahasiswa yang menolak kebijakan pemangkasan anggaran pendidikan. Mereka menilai langkah itu tidak adil dan bisa merugikan masa depan bangsa. Selain turun ke jalan, mahasiswa juga mendapat dukungan di dunia maya. Masyarakat ikut bersuara lewat unggahan, komentar, dan diskusi yang menyebar cepat. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial menjadi ruang penting untuk menyuarakan pendapat. Suara yang muncul tidak hanya dari mahasiswa, tetapi juga dari berbagai kalangan. Tagar #IndonesiaGelap akhirnya menjadi simbol keresahan banyak orang. Ia bukan hanya rangkaian kata, melainkan tanda bahwa ada masalah serius yang perlu diperhatikan. Kini, pertanyaannya adalah apakah suara dari jalanan dan dunia maya ini akan benar-benar didengar oleh pemerintah. Harapan publik tetap sama: pendidikan h...

Kejujuran Lebih Berharga dari Seribu keping Emas

Di kelas yang ramai ada seseorang anak yang bernama Anam. Ia dikenal sebagai anak yang sangat teliti dalam urusan administrasi,tapi ia baru menjadi anggota dan belum banyak mendapat peran besar di dalam sebuah organisasi tersebut. Suatu hari, Anam ditugaskan oleh bendahara untuk menghitung uang kas organisasi dari hasil penjualan kecil, uang itu berjumlah lumayan banyak dan diletakan dalam amplop di atas meja. Saat menghitung, Anam menemukan satu lembar uang seratus ribuan yang terselip di bawah tumpukan kertas, yang yang tidak tercatat dalam pembukuan bendahara. "Wah ini rezeki nomplok",pikir Anam. Ia bisa dengan mudah menyimpan nya tanpa ada yang tahu,karena bendahara tidak mencatat uang lebih itu.  Namun, Anam teringat akan janji yang selalu mengajarkan tentang integritas. Ia menarik napas panjang, masukan uang yang terselip itu kembali ke dalam amplop itu sambil berkata "kak ini total uang kas yang tadi saya hitung. Tapi, saya menghitung. Tapi, saya menemukan satu le...

Jejak Langkah yang Tak Padam

 Di bawah langit senja yang perlahan redup, langkah demi langkah tetap berpijak tanpa takut runtuh. Bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang tetap bertahan meski lelah menghampiri. Kau membawa semangat, aku membawa keyakinan, dia membawa doa yang diam-diam menguatkan perjalanan. Kita bukan sekadar kumpulan nama dalam cerita, tetapi tangan-tangan kecil yang saling menjaga cita. Kadang jalan dipenuhi batu dan debu yang berjatuhan, namun harapan tak pernah benar-benar kehilangan tujuan. Karena setiap peluh yang jatuh hari ini, akan menjadi saksi perjuangan di masa nanti. Tak perlu menjadi cahaya paling terang untuk berarti, cukup tetap menyala di tengah gelap yang silih berganti. Sebab dunia tak hanya dibangun oleh mereka yang hebat, tetapi juga oleh hati yang tulus dan tekad yang kuat.