Langsung ke konten utama

Tebarkanlah Kebaikan Seluas-luas nya

     Disuatu pedesaan yang asri dan damai hiduplah seorang remaja yang bernama asef. Ia dikenal sebagai orang yang rajin dan dermawan, ia selalu menyempatkan diri untuk membantu orang lain, meskipun ia punya masalah sendiri. 

     Suatu hari , saat pulang bermain asef melihat seorang pemuda yang tak ia kenali sedang kesulitan menuntun motornya, lalu asef menghampiri pemuda itu dan menanyakan apa yang sedang ia alami .

"Hai kawan, kenapa kamu menuntun motormu?" tanya asef 

lalu pemuda itu menjawab"Haiii, aku kehabisan bensin nih, tapi aku ngga punya uang buat beli bensin".

lalu asef menawarkan bantuan dengan ia memberikan uangnya kepada pemuda itu.

Asef: " Pake uangku aja nih"

Pemuda : "yaudah aku pinjem dulu ya uangmu besok aku kembaliin uangmu".

Asef: udah ga usahh buat kamu aja buat beli bensin.

    kemudian asef menyetap motor si pemuda sampai menemukan penjual bensin.setelah pemuda itu membeli bensin pemuda itu berterimakasih kepada asef karena telah menolonya, dan pemuda itu juga berjanji akan mengembalikan uang asef. lalu pemuda pergi pulang dan selamat sampai rumah.

     Keesokan harinya seorang pemuda datang untuk mengembalikan uang asef tetapi seorang pemuda itu tidak menemukan rumah Asef sehingga uang itu dititipkan kepada penjual nasi goreng yang mengenal asef.

    jadi pelajaran yang dapat diambil dari cerita diatas yaitu kebaikan dijalan, seperti yang dilakukan asef, menjadi cerminan bahwa ditengah hiruk-pikuk kehidupan, selalu ada kesempatan untuk menebar kebaikan. sekecil apapun tindakan baik itu, ia bisa menjadi cahaya yang menerangi kita suatu saat nanti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APA YANG BURUK DI MATAMU, BELUM TENTU BURUK SEPENUHNYA

(Resensi buku oleh Anandhika Lukman Firmani) Identitas Buku 1. Judul Buku : Sisi Tergelap Surga 2. Penulis: Brian Khrisna 3. Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 4. Tahun Terbit : 2023 5. Ketebalan: 304 halaman 6. ISBN: 978-602-06-7438.4 Pendahuluan Selain karya Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati (2025), Brian Khrisna pernah menciptakan beberapa novel sebelumnya, salah satunya adalah Sisi Tergelap Surga. Buku ini merupan buku yang ke-7 (2023) dia ciptakan setelah novel Perumpamaan (2021). Novel ini diangkat dari kenyataan Brian dua puluh lima tahun di Jakarta. Ia ingin menampilkan kontras atau paradoks kota Jakarta yang sering dianggap sebagai kota “surga penuh harapan,” namun kenyataannya justru melumat halus-halus mimpi para masyarakat kelas bawah. Di sisi lain, alasan utama Brian menulis novel ini adalah untuk menumbuhkan rasa empati pembaca terhadap kaum marginal (orang yang terpinggirkan karena keterbatasan) dan mengajarkan kita untuk tidak mudah menghakimi jalan hidup orang lain. Sinopsi...

Kejujuran Lebih Berharga dari Seribu keping Emas

Di kelas yang ramai ada seseorang anak yang bernama Anam. Ia dikenal sebagai anak yang sangat teliti dalam urusan administrasi,tapi ia baru menjadi anggota dan belum banyak mendapat peran besar di dalam sebuah organisasi tersebut. Suatu hari, Anam ditugaskan oleh bendahara untuk menghitung uang kas organisasi dari hasil penjualan kecil, uang itu berjumlah lumayan banyak dan diletakan dalam amplop di atas meja. Saat menghitung, Anam menemukan satu lembar uang seratus ribuan yang terselip di bawah tumpukan kertas, yang yang tidak tercatat dalam pembukuan bendahara. "Wah ini rezeki nomplok",pikir Anam. Ia bisa dengan mudah menyimpan nya tanpa ada yang tahu,karena bendahara tidak mencatat uang lebih itu.  Namun, Anam teringat akan janji yang selalu mengajarkan tentang integritas. Ia menarik napas panjang, masukan uang yang terselip itu kembali ke dalam amplop itu sambil berkata "kak ini total uang kas yang tadi saya hitung. Tapi, saya menghitung. Tapi, saya menemukan satu le...

Jejak Langkah yang Tak Padam

 Di bawah langit senja yang perlahan redup, langkah demi langkah tetap berpijak tanpa takut runtuh. Bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang tetap bertahan meski lelah menghampiri. Kau membawa semangat, aku membawa keyakinan, dia membawa doa yang diam-diam menguatkan perjalanan. Kita bukan sekadar kumpulan nama dalam cerita, tetapi tangan-tangan kecil yang saling menjaga cita. Kadang jalan dipenuhi batu dan debu yang berjatuhan, namun harapan tak pernah benar-benar kehilangan tujuan. Karena setiap peluh yang jatuh hari ini, akan menjadi saksi perjuangan di masa nanti. Tak perlu menjadi cahaya paling terang untuk berarti, cukup tetap menyala di tengah gelap yang silih berganti. Sebab dunia tak hanya dibangun oleh mereka yang hebat, tetapi juga oleh hati yang tulus dan tekad yang kuat.